Berbakti kepada orang tua

Habib Munzir meriwayatkan sebuah hadits ketika seorang anak mengadu pada Rasululullah shallallahu alaihi wasallam karena ayahnya mengambil hartanya, maka Rasululullah shallallahu alaihi wasallam memanggil ayahnya, ketika ayahnya ditanya maka ayahnya melantunkan semacam syair sambil menangis, diantaranya:
telah kuazankan bayiku saat ia lahir dan bagiku tak ada kegembiraan melebih kelahirannya, kujadikan diriku sebagai budaknya dan laparku dan hausku demi kenyangnya, kutinggalkan tidurku demi kepulasan tidurnya, kuperbuat segalanya untuknya demi ia tenang dan senang, sakitnya adalah berita terbesarku, kepedihannya adalah airmataku, kesembuhannya adalah sujud syukurku, dan kini ketika sang bayi dewasa dan diberi harta oleh Allah aku mengambil sebagiannya karena ialah orang yang paling dekat padaku dan belahan diriku, dan ia mengadukanku sebagai dholim pencuri hartanya
maka Rasululullah shallallahu alaihi wasallam berlinang airmata dan berkata : “Hartamu milik ayahmu“.

Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya yang artinya “jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“. (QS Al-Isra [17] : 23)

Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan. “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya. “Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan kedua orang tuanya serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena status mereka sebagai orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya :  “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“. (QS Al-Isra [17] : 24)

Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hal yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersada yang artinya: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu“. (Hadits Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dari hadits Ibnu Amr dan dari hadits Jabir)

Kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya ” (QS Al Baqarah [2]:215)

Jika seseorang anak lak-laki sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan.

Anak laki-laki, berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana riwayat berikut

Dari Abu Hurairah seorang laki-laki seraya berkata; ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku? Beliau menjawab: ‘Ibumu, lalu Ibumu, lalu Ibumu, kemudian bapakmu, kemudian orang yang terdekat denganmu dan seterusnya.‘ (HR Muslim 4622)

Wassalam

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s