DAKWAH DI JALAN ALLAH

MOTIVASI DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH

 

 

عَنْ أَبي هرَيْرَةَ t، عَنْ رَسولِ اللّهِ- r- قَالَ: قَالَ سلَيْمَان بْن دَاودَ عَلَيهِمَا السَّلَام: لأَطوفَنَّ اللَّيْلةَ عَلَى مِائة امْرَأَةٍ -أَوْ تِسْعٍ وتسعِينَ- كلهنَّ يَأْتي بِفَارِسٍ يجَاهِد فِي سَبيلِ اللّهِ. فَقَالَ لَه صَاحِبه: قلْ: إِنْ شَاءَ الله. فَلَمْ يَقلْ

إِنْ شَاءَ اللّه، فَلَمْ تَحْمِلْ منْهن إِلا امْرَأَة وَاحِدَة جَاءَتْ بشِقِّ رَجلٍ. وَالَّذِي نَفْس محَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ قَالَ: إِنْ شَاءَ اللّه، لَجَاهَدوا فِي سبِيلِ اللّهِ فرسَانا أَجْمَعونَ.

وفي رواية: فَقَالَ لَه المَلَك: قلْ إِنْ شَاءَ اللّه، فَلَمْ يَقلْ وَنَسِيَ، فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَم تَلِدْ مِنْهنَّ إِلا امْرَأَة نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ النَّبيّ r: لَوْ قَالَ “إِنْ شَاءَ اللّه”، لَمْ يَحْنثْ وَكَانَ أَرْجَى لِحَاجَتِهِ.

وفي رواية: فَقَالَ لَه صَاحِبه: قَالَ سفْيَان: يَعني الْمَلَكَ، قلْ إِنْ شَاءَ اللّه فَنَسِيَ. وفيها: لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللّه لم يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكا له فِي حَاجَتِهِ.

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, dari Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, Sulaiman bin Daud berkata, ‘Sungguh pada malam hari ini aku akan menggilir seratus isteri (atau sembilan puluh sembilan). Setiap dari mereka akan melahirkan pasukan berkuda yang siap berjuang di jalan Allah.’ Maka shahabatnya berkata kepadanya, ‘Ucapkanlah insyaAllah (jika Allah menghendaki).’ (Akan tetapi) dia lupa untuk mengucapkan insyaAllah, maka tidak ada seorangpun yang hamil dari isterinya melainkan hanya satu saja yang melahirkan separuh orang. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah, sungguh (anak-anaknya) akan menjadi pasukan berkuda yang siap berjihad di jalan Allah. [1]

Dalam riwayat yang lain dikatakan,

Maka seorang malaikat berkata kepadanya, ‘Ucapkanlah insyaAllah.’ (Akan tetapi) dia (Sulaiman) tidak mengucapkannya karena lupa. Maka kemudian ia menggilir isteri-isterinya dan dari mereka tidak ada yang melahirkan kecuali seorang perempuan setengah manusia. Maka Nabi mengatakan, Seandainya ia mengucapkan insyaAllah, dan tidak melanggar sumpahnya, maka keperluannya lebh bisa ia harapkan. [2]

Dalam riwayat lain pula dikatakan,

Maka shahabatnya mengatakan, (sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan), ‘Ucapkanlah insyaAllah, akan tetapi dia lupa. Dan dalam riwayat tersebut dikatakan, Seandainya dia (Sulaiman) mengucapkan insyaAllah dan tidak melanggar sumpahnya, maka kebutuhannya bisa ia capai.[3] Baca lebih lanjut

MENJADI WANITA MUJAHIDAH

Ummu Sulaim Wanita Solehah Yang Unggul
Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.

Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”. Baca lebih lanjut