HEBATNYA SAHABAT NABI….

35133_440056994746_263021949746_5979463_3489898_n

Seperti yang kita tahu, para sahabat Nabi SAW sangat khusyuk ketika solat. Ada yang mengatakan bahawa ketika mereka solat, segala apa yang berlaku disekeliling mereka tidak mereka sedari. Allahu Rabbi, betapa hebatnya iman para Sahabat Nabi SAW. Kali ini saya ingin berkongsi beberapa cerita tentang hebatnya solat sahabat Nabi SAW.
Pada suatu hari, kaki Saidina Umar al-Khattab telah dipanah. Para sahabat yang yang lain cuba untuk menarik keluar panah tersebut dari kaki Saidina Umar al-Khattab. Walaubagaimanapun, Saidina Umar berasa sakit ketika panah dikakinya cuba dicabut. Kemudian Saidina Umar al-Khattab berkata kepada sahabatnya supaya mencabut panah di kakinya ketika dia sedang solat.
Saidina Umar mula menunaikan solat. Ketika beliau sedang bersembahyang, panah yang berada di kakinya dicabut oleh orang yang ada dikelilingnya. Tiada sedikit pun reaksi daripada Saidina Umar ketika panah itu dicabut. Seusai Solat, Sadina Umar al-Khattab berasa sakit dikaki. Rupa – rupanya, baru dia tersedar yang panah dikakinya sudah dicabut..
Allahu Akbar… betapa hebatnya iman Saidina Umar al-Khattab, Khalifah kedua Umat Islam selepas kewafatan Nabi SAW.
Lagi satu cerita tentang seorang sahabat Nabi SAW juga.. Tapi saya lupa namanya..
Suatu ketika, seorang sahabat Nabi SAW sedang menunaikan solat sunat. Di samping beliau, ada anaknya yang masih kecil sedang bermain. Tiba – tiba, seekor ular telah membelit anaknya itu sehingga anak kecilnya itu hampir mati. Tiada sedikit reaksi pun daripada bapanya yang sedang menunaikan solat. Nasib baiklah isterinya ternampak kejadian tersebut. Maka dia menyelamatkan anaknya itu.
Seusai solat, Si isteri memberitahu kepada suaminya bahawa anak mereka hampir mati di belit ular. Si suami berkata bahawa beliau langsung tidak sedar akan kejadian itu.. Baca lebih lanjut

hakikat wanita shalihah …

Hakikat Wanita Shalihah ♥

 
“Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia; kemuliaannya mengalahkan tumpukan emas, intan dan permata. Ia memiliki hati seperti embun yang merunduk tawadhu’ di pucuk-pucuk daun. Seperti karang yang berdiri tegar di antara derasnya arus kehidupan. Memiliki iman seperti  bintang, terang benderang menerangi kehidupan. Ia seperti sekuntum mawar yang datang dari surga; anggun di balik perisai ketegasan, cantik dalam balutan malu, berbinar dalam tunduknya pandangan mata. Ia lembut sekaligus tangguh, ia mempesona meski tak tersentuh, ia serahkan jiwa dan raga sepenuhnya kepada Sang Maha Pemilik Segala.”

(Shabrina Nida Al Husna)

Wanita shalihah.. Jika kita mendengar frasa ini, mungkin yang terbayang di benak kita adalah seorang wanita berkerudung, yang menggunakan jubah panjang sampai ujung kaki, bahkan yang menutup mukanya hingga yang terlihat hanyalah dua pasang matanya. Apakah benar itu yang dikatakan wanita shalihah? Seperti apakah kriteria wanita shalihah menurut Islam?

Jika kita menelaah kembali sejarah wanita sebelum Islam datang, di mana kedudukan wanita sangat rendah, bahkan sebuah keluarga dianggap hina jika melahirkan seorang bayi wanita.  Pada masa itu, wanita sama halnya seperti binatang yang menjijikan. Seorang ayah bahkan boleh menjualbelikan anak perempuannya, mengubur hidup-hidup anaknya dan yang lebih keji lagi para suami rela membagi istrinya dengan teman-temannya. Bisa kita bayangkan jika Islam tidak datang pada masa itu dan kebiasaan itu masih terjadi hingga masa kini? Baca lebih lanjut

BERAKHLAK MULIA..

Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia

Dalam realitas keseharian kita, kadangkala kita pernah menjumpai seorang Muslim yang mungkin dari sisi ritualitas ibadahnya bagus, namun hal demikian sering tidak tercermin dalam perilaku atau akhlaknya. Shalatnya rajin, tetapi sering tak peduli dengan tetangganya yang miskin. Shaum sunnahnya rajin, namun wajahnya jarang menampakkan sikap ramah kepada sesama. Zikirnya rajin, tetapi tak mau bergaul dengan masyarakat umum. Demikian seterusnya. Tentu saja, Muslim demikian bukanlah Muslim yang ideal.

Muslim yang ideal tentu adalah Muslim yang memiliki hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah SWT yang terwujud dalam akidah dan ibadahnya yang lurus dan baik, sekaligus juga memiliki hubungan yang baik secara horisontal dengan sesama manusia yang tercermin dalam akhlaknya yang mulia.

Akhlak mulia (akhlaq al-karimah) adalah salah satu tanda kesempurnaan keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Karena itu, tentu tidak dikatakan sempurna keimanan dan ketakwaan seorang Muslim jika ia tidak memiliki akhlak mulia. Bahkan Baginda Rasulullah SAW menyebut keimanan yang paling sempurna dari seorang Muslim ditunjukkan oleh akhlaknya yang mulia, “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya,” demikian sabda beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, tidak aneh jika Baginda Rasulullah SAW pun menyebut Muslim yang berakhlak mulia sebagai manusia terbaik. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sejumlah hadits lainnya, Baginda Rasulullah SAW menyebut sejumlah keistimewaan akhlak mulia ini. Saat beliau ditanya tentang apa itu kebajikan (al-birr), misalnya, beliau lansung menjawab, “Al-Birr husn al-khulq (Kebajikan itu adalah akhlak mulia.” (HR Muslim).

Beliau bahkan bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-keta keji.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah SAW pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak mulia.” (HR at-Tirmidzi).

Akhlak mulia tentu saja bagian dari ketakwaan itu sendiri. Namun demikian, akhlak mulia disebut secara khusus dalam hadits di atas. Ini menunjukkan betapa istimewanya akhlak mulia. Ibn al-Qayyim berkata, “Penggabungan takwa dengan akhlak mulia karena takwa menunjukkan baiknya hubungan seseorang dengan Tuhannya, sementara akhlak mulia menunjukkan baiknya hubungan dirinya dengan orang lain.” (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/68).

Sebaliknya, saat Baginda Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi).

Mengapa mulut? Sebab, dari mulut bisa meluncur kata-kata kekufuran, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), namimah (mengadu-domba orang lain), memfitnah orang lain, membatalkan yang haq dan membenarkan yang batil, dll.

Keutamaan kedudukan orang yang berakhlak mulia juga disejajarkan dengan keutamaan kedudukan orang yang biasa memperbanyak ibadah shaum dan sering menunaikan shalat malam. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam.” (HR Abu Dawud).

Bahkan kedudukan orang yang berakhlak mulia pada Hari Kiamat nanti dekat dengan kedudukan Baginda Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat, pen.) dan sombong.” HR at-Tirmidzi).

Lalu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia atau husn al-khulq? Di dalam tafsirnya, Abdullah ibn al-Mubarak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, menyebut husn al-khulq sebagai: selalu bermuka manis; biasa melakukan kebajikan, di antaranya dengan biasa memberikan nasihat kepada orang lain dengan kata-kata yang baik, ringan tangan (mudah membantu orang lain), dll; serta sanggup menahan diri dari sikap menyakiti orang lain baik lewat ucapan maupun tindakan.

Husn al-hulq sesungguhnya juga merupakan gabungan dari sikap suka memaafkan, biasa memerintahkan kebajikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil/bodoh, sebagaimana firman Allah SWT: Berilah maaf, perintahkanlah kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (TQS al-A’raf [7]: 199). (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/72).

 

AL QUR’AN PEDOMAN HIDUP ISLAM

Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

[Al Islam 618] Peristiwa turunnya al-Quran di bulan Ramadhan setiap tahun senantiasa diperingati, begitu pula tahun ini seperti yang marak dilakukan pada hari-hari ini. Peringatan itu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas diturunkannya al-Quran. Ramai dan semaraknya peringatan Nuzulul Quran di negeri ini patut mendapat apresiasi. Namun tentu saja peringatan itu tidak boleh berhenti hanya sebatas seremonial semata seperti yang terlihat selama ini.

Pengkerdilan Al-Quran

Seruan “membumikan al-Quran” oleh orang-orang liberal dimaknai sebagai reaktualisasi al-Quran. Reaktualisasi al-Quran dimaknai bahwa kandungan al-Quran harus ditafsirkan sedemikian rupa hingga sejalan dengan realitas aktual. Agar al-Quran sejalan dengan perkembangan zaman modern maka harus ditafsirkan ulang supaya bisa sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pemaknaan seperti itu akhirnya al-Quran ditundukkan pada perkembangan zaman. Bagaimana mungkin al-Quran justru ditundukkan pada realitas rusak saat ini, padahal al-Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup umat manusia?

Bahkan ada yang lebih lancang dengan menggugat keaslian al-Quran. Ada juga yang menuduh bahwa al-Quran itu tidak lepas dari ucapan dan pengungkapan Muhammad yang tidak bisa dilepaskan oleh pengaruh konteks zamannya. Seruan dan tuduhan seperti itu pada akhirnya justru akan merusak keyakinan umat akan kesucian al-Quran dan bahwa al-Quran itu merupakan wahyu dari Allah SWT baik lafazh maupun isinya sehingga pasti benar. Tak diragukan lagi bahwa seruan seperti itu bukan mendekatkan kepada al-Quran tapi sebaiknya justru menjauhkkan umat dari al-Quran. Sayangnya seruan yang berasal dari para orientalis itu justru diusung orang muslim yang dianggap intelektual. Tentu saja seruan itu dan semacamnya harus diwaspadai oleh umat siapapun yang membawanya.

Disamping semua itu, juga ada beberapa sikap keliru terhadap al-Quran. Kadang kala yang terjadi adalah mistikasi al-Quran. Al-Quran diangap sebagai ajimat pengusir setan. Padahal, al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela.

Begitu juga, sudah mentradisi, setiap tahun turunnya al-Quran dirayakan secara seremonial. Al-Quran dibaca dan didendangkan dengan merdu di arena MTQ, tadarusan al-Quran juga marak, dsb. Namun sayang, aktivitas tersebut belum diikuti dengan pemahaman atas maksud diturunkannya al-Quran. Al-Quran yang diturunkan sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, justru dijauhkan dari kehidupan.

Al-Quran merupakan kalamullah dan membacanya merupakan ibadah. Betul, bagi seorang Muslim, sekadar membacanya saja berpahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29), bahkan pahala itu diberikan atas setiap huruf al-Quran yang dibaca. Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca. Sebab, al-Quran bukan sekedar bacaan dan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. Al-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kita mendengar pernyataan bahwa al-Quran adalah pedoman hidup. Tetapi nyatanya al-Quran tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan. Al-Quran hanya diambil aspek moralnya saja sementara ketentuan dan hukum-hukumnya justru ditinggalkan.

Semua sikap itu sering diklaim sebagai sikap mengagungkan al-Quran. Disadari atau tidak semua sikap itu masih terjadi di tengah masyarakat. Padahal sesungguhnya sikap-sikap itu bukan bentuk pengagungan terhadap al-Quran, tapi sebaliknya justru pengkerdilan terhadap al-Quran. Bahkan boleh jadi semua itu termasuk sikap yang diadukan oleh Rasulullah saw dalam firman Allah SWT:

] وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا [

Dan berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan” (TQS. al-Furqan [25]: 30)

Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsîr al-Qurân al-’Azhîm, mencontohkan sikap hajr al-Qurân (meninggalkan atau mengabaikan al-Quran). Diantaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Quran; tidak mau menyimak dan mendengarkannya, bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar al-Quran saat dibacakan; tidak mentadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya, dan berpaling darinya lalu berpaling kepada selainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau thariqah yang diambil dari selain al-Quran.

Selain itu Allah SWT mensifati kaum yang melakukan hal itu dengan sifat yang sangat jelek. Hal itu seperti ketika Allah SWT mensifati kaum Yahudi di dalam firman-Nya:

] مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ [

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. (TQS al-Jumu’ah [62]: 5)

Melalui ayat tersebut, Allah mensifati kaum yang memikul wahyu tanpa melaksanakannya laksana keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Apa yang ada dalam perasaan kita ketika kita tidak melaksanakan al-Quran, lalu Allah SWT mengumpamakan kita seperti keledai? Orang yang beriman, bertakwa dan rindu akan ridla Allah Swt. Niscaya akan meneteskan air mata jika disebut begitu oleh Zat yang dia harapkan ampunan-Nya.

Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

Al-Quran sejatinya diturunkan oleh Allah untuk menjadi petunjuk, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela. Karenanya al-Quran itu harus dijadikan pedoman hidup. Untuk itu keimanan terhadap al-Quran haruslah totalitas, keseluruhannya, bagian per bagiannya, dan ayat per ayat yang ada di dalamnya. Mengingkari satu ayat al-Quran telah cukup menjerumuskan seseorang dalam kekafiran (QS. an-Nisa’ [04]:150-151).

Keimanan terhadap al-Quran itu mengharuskan untuk tidak bersikap ‘diskriminatif’ terhadap seluruh isi dan kandungan al-Quran. Tidak boleh terjadi, sikap bisa menerima tanpa reserve hukum-hukum ibadah atau akhlak, tetapi menolak hukum-hukum al-Quran tentang kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, pidana, atau hubungan internasional. Sebab semuanya sama-sama berasal dari al-Quran dan sama-sama merupakan wahyu Allah SWT.

Karena itu tidak semestinya muncul sikap berbeda terhadap satu ayat dengan ayat lainnya. Jika ayat Kutiba ‘alaykum ash-shiyâm -diwajibkan atas kalian berpuasa- (QS. al-Baqarah [02]: 183), diterima dan dilaksanakan, maka ayat Kutiba ‘alaykum al-qishâsh -diwajibkan atas kalian qishash- (QS. al-Baqarah [02]: 178); atau Kutiba ‘alaykum al-qitâl -diwajibkan atas kalian perang- (QS. al-Baqarah [02]: 216) tentu juga harus diterima dan dilaksanakan. Tidak boleh muncul sikap keberatan, penolakan, bahkan penentangan dengan dalih apa pun. Sikap ‘diskriminatif’ akan berujung pada terabaikannya sebagian ayat al-Quran. Itu merupakan sikap mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian lainnya. Sikap itu diancam oleh Allah akan mendapat kehinaan di dunia dan azab pedih di akhirat (QS al-Baqarah [2]: 85).

Menjadikan al-Quran sebagai pdoman hidup itu mengharuskan kita untuk mengambil dan melaksanakan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum yang diberikan oleh al-Quran dan hadits Nabi saw, yakni hukum-hukum syariah Islam. Sebab al-Quran juga memerintahkan kita untuk mengambil apa saja yang dibawa Nabi saw dan meninggalkan apa saja yang beliau larang (QS al-Hasyr [33]: 7).

Ketentuan dan hukum yang dibawa oleh al-Quran dan hadits itu mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan (QS. an-Nahl [16]: 89). Berbagai interaksi yang dilakukan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, semua berada dalam wilayah hukum al-Qur’an dan hadits.

Hanya saja, ada sebagian hukum itu yang hanya bisa dilakukan oleh negara, semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri, sanksi pidana, dsb. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan individu dan hanya sah dilakukan oleh imam yakni khalifah atau yang diberi wewenang olehnya.

Karena itu, menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup itu tidak akan sempurna kecuali sampai pada penerapan hukum-hukum syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan totalitas. Dan itu tidak mungkin kecuali melalui kekuasaan pemerintahan dan dalam bingkai sistem yang menerapkan syariah, yang tidak lain sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Peringatan Nuzulul Quran tahun ini hendaknya kita jadikan momentum untuk berkomitmen mewujudkan semua itu dalam tataran riil. Untuk itu hendaknya kita renungkan firman Allah SWT:

] فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا[

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20] 12-124)

 

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar Al Islam

Ketua Komisi Yudisial Eman Suparman: “Setelah gaji dinaikkan minimal Rp 10 juta/bulan, seharusnya seorang hakim lebih bersikap adil dan tidak melakukan praktik menyimpang.” (lihat, detikNews, 31/7)

1.      Gaji tinggi sering tidak efektif mencegah praktik menyimpang selama sistem yang diterapkan adalah kapitalisme dan tidak disertai dengan ketakwaan hakim.

2.      Dalam sistem hukum sekarang keadilan sulit diwujudkan sebab sistem hukumnya sendiri buruk dan zalim

3. Keadilan hukum hanya bisa diwujudkan dengan sistem hukum yang berasal dari Zat yang Maha Adil. Kuncinya mewujudkan keadilan hukum adalah penerapan syariah Islam secara utuh dan totalitas dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah

menutup aurat wanita secara al quran

Kewajipan Menutup Aurat

May 5, 2010 by ilidalila

Ditulis oleh : Ummu Abdillah

Dewasa ini kita menyaksikan ramai wanita yang telah memakai tudung di tempat-tempat awam samada yang berjubah, berbaju kurung atau berseluar. Ini merupakan satu fenomena yang baik jika dibandingkan dengan zaman datuk nenek kita yang mana sukar untuk kita melihat para wanita memakai tudung. Namun begitu, ada juga sesetengah wanita di zaman ini yang kurang mengerti apakah pengertian sebenar menutup aurat. Sekadar memakai tudung di tempat-tempat awam telah disangkanya menutup aurat, sedangkan menutup aurat dan hanya memakai tudung melitupi kepala adalah dua perkara yang berbeza. Fenomena bertudung ini akan bertambah baik sekiranya para wanita memahami pengertian aurat dan bagaimana menutup aurat dengan sempurna serta mempraktikkannya dalam kehidupan seharian. Artikel ini akan cuba untuk mendefinisikan apakah aurat wanita yang sebenar dan penulis akan membawakan dalil yang menunjukkan kewajipan menutup aurat menurut al-Quran dan Sunnah, syarat-syarat pakaian yang menutup aurat menurut syara’ serta definisi mahram.

Kepentingan menutup aurat

                Mengapa manusia perlu menutup aurat? Dan mengapa urusan berpakaian ini tidak diserahkan kepada manusia? Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta kita, Dia lebih mengetahui perihal hambaNya lebih daripada hambaNya mengenali dirinya sendiri. Jika urusan pakaian ini diserahkan kepada manusia, nescaya ia boleh membawa kepada kerosakan. Kita lihatlah sendiri, sedangkan hukum pun telah ditetapkan, ramai wanita yang hampir sahaja bertelanjang di luar sana, apatah lagi jika hukum ini diserahkan kepada manusia. Setiap insan, baik lelaki mahupun wanita, perlulah berpegang teguh dengan pakaian syar’ie iaitu cara penutupan aurat yang telah ditetapkan oleh Allah. Tidak semestinya perihal berpakaian ini termasuk urusan keduniaan, maka kita sewenang-wenangnya boleh melanggar perintah ini. Seperti yang kita sedia maklum, Islam merupakan agama yang meliputi urusan akhirat dan dunia. Oleh itu, ketaatan merupakan suatu kewajipan bagi kita terhadap kedua-dua jenis urusan ini, baik ukhrawi mahupun duniawi.

Definisi aurat

Dari segi bahasa, aurat membawa maksud kecacatan atau keaiban pada sesuatu. Ia juga bermaksud apa jua yang ditutupi oleh manusia kerana rasa malu[1]. Manakala secara istilahnya, aurat bermaksud setiap anggota yang wajib ditutup dan haram untuk dilihat[2]. Di sini, penulis akan membincangkan apakah anggota yang wajib ditutup oleh seorang wanita Muslimah yang telah baligh. Apabila kita membincangkan aurat yang wajib ditutup, ia mempunyai cabang yang banyak; aurat di hadapan mahram, aurat di hadapan bukan mahram (ajnabi), aurat di hadapan suami, aurat di hadapan wanita Muslimah atau kafir. Tulisan ini secara khususnya akan membincangkan aurat yang wajib ditutup di hadapan bukan mahram. Definisi mahram dan penerangan lanjut mengenainya akan diterangkan kemudian di dalam penulisan ini.

Dalil wajibnya menutup aurat

Kewajipan menutup aurat telah disebut oleh Allah Ta’ala di dalam al-Quran di beberapa tempat. Antaranya, Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Maksudnya : Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangan mereka   dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain tudung ke dadanya… (al-Nuur : 31)

Allah Ta’ala juga menyebut di dalam al-Quran :

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maksudnya : Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin kahwin (lagi), tiadalah dosa atas mereka menanggalkan pakaian (pakaian luar yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (al-Nuur : 60)

Seterusnya, Allah Ta’ala juga menyebut :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Maksudnya : Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : “Hendaklah mereka menghulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab : 59)

Ini ialah perintah yang turun dari tujuh petala langit kepada para wanita Muslimah supaya memelihara aurat dan kehormatan mereka. Dan hendaklah para wanita bersegera untuk menyahut seruan Allah ini kerana ia merupakan tanda keimanan, kehambaan serta kepatuhan kita kepadaNya. Ayat-ayat suci ini diulas dan diperincikan dengan lebih lanjut oleh hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam supaya para wanita memahami bagaimanakah untuk menutup aurat seperti yang dikehendaki oleh agama dan bukannya menutup aurat mengikut syariat sendiri ataupun kemahuan sendiri.

Dalam masalah aurat ini, Dr. Abdul Karim Zaidan hafizhahullah mengatakan kaedah yang diguna pakai secara umumnya ialah : “Setiap aurat wanita wajib ditutup dan disembunyikan dari pandangan lelaki yang bukan mahram, dan anggota badan wanita yang bukan aurat boleh dinampakkan dan tidak perlu ditutup dari pandangan lelaki yang bukan mahram melainkan jika ada sebab-sebab tertentu”[3]. Apakah anggota badan wanita yang dikira aurat dan apa pula yang bukan aurat? Majoriti para ulama’ mengatakan bahawa seluruh anggota badan wanita ialah aurat kecuali muka dan kedua tapak tangannya. Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ‘kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’ dari ayat 31 dalam surah al-Nuur sebagai muka dan tapak tangan[4].  Jadi setiap wanita Muslimah yang telah baligh wajib menutup seluruh anggota badannya dari pandangan lelaki yang bukan mahram kecuali muka dan kedua tapak tangannya.

Dalam sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha maksudnya : “Asma’ binti Abi Bakr al-Siddiq masuk menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dan dia memakai pakaian yang nipis, Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berpaling daripadanya dan berkata : ‘Wahai Asma’, sekiranya seorang wanita telah didatangi haid, anggota badannya tidak boleh diperlihatkan kecuali ini dan ini’, Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan ke mukanya dan kedua tapak tangannya”[5].

Syarat pakaian wanita Muslimah

Menutup aurat bukanlah juga semata-mata tidak menampakkan anggota badan kecuali muka dan tapak tangan, tetapi syariat Islam telah menetapkan beberapa syarat pada pakaian wanita Muslimah. Setiap syarat ini perlu dipatuhi supaya ianya memenuhi maksud menutup aurat itu sendiri. Jika salah satu syarat ini tidak dilaksanakan oleh seseorang wanita itu, maka ia tidak dikira sebagai menutup aurat.

Pertama; hendaklah pakaian itu melitupi seluruh badan kecuali anggota yang bukan aurat. Syarat ini telah dibahaskan serba-sedikit di atas. Di sini, penulis akan menyebutkan jenis-jenis pakaian wanita yang digunakan untuk menutup aurat.

1)       Khimar (tudung). Perkataan khimar ini ada disebutkan di dalam al-Quran dalam surah al-Nur ayat 31. Allah Ta’ala berfirman : وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ. Khimar bermaksud kain yang digunakan untuk menutup kepala. Disebutkan di dalam tafsir al-Qurtubi bahawa sebab ayat ini turun adalah kerana wanita pada masa itu memakai tudung dengan mengikatnya dan melabuhkannya ke belakang, oleh itu ia menampakkan leher dan telinga. Kemudian Allah memerintahkan supaya tudung tersebut dilabuhkan ke atas tempat potongan leher supaya ia menutup dada mereka[6]. Oleh itu, dari ayat ini serta sebab turunnya ayat ini, jelaslah seorang wanita Muslimah itu mesti memakai tudung dengan sempurna dengan tidak menampakkan leher, telinga dan dada.

2)       Jilbab. Perkataan jilbab disebut di dalam al-Quran dalam surah al-Ahzab ayat 59. Allah Ta’ala berfirman : يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا. Ibn al-‘Arabi rahimahullah berkata mengenai tafsir ayat di atas : ‘Manusia berselisih pendapat mengenai makna ‘jilbab’ dengan lafaz yang saling menghampiri maknanya antara satu sama lain. Secara umumnya, ia adalah baju yang dipakai untuk menutup seluruh anggota badan’[7]. Jilbab atau dalam erti kata lainnya, pakaian yang menutup aurat wanita itu wajib dipakai ketika keluar dari rumah supaya aurat wanita terlindung dari pandangan lelaki ajnabi. Selain itu, ia juga wajib dipakai walaupun di dalam rumah sekiranya ada lelaki yang bukan mahram. Ini adalah satu perkara yang sering disalah fahami oleh wanita zaman sekarang. Mereka beranggapan bahawa menutup aurat itu hanya apabila keluar dari rumah sedangkan aurat itu perlu ditutup dari terlihat oleh lelaki yang bukan mahram, tidak kiralah walau di mana jua pun tempatnya.

Kita telah mengetahui bahawa wanita wajib menutup seluruh anggota badannya kecuali muka dan tapak tangan, adakah ini bermakna panjang kain wanita itu tiada hadnya dan dia boleh melabuhkannya sesuka hati? Kita lihat suatu hadis yang berbunyi : ‘Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika Baginda menyebut mengenai kain sarung (larangan melabuhkannya bagi lelaki) : Bagaimana pula dengan wanita wahai Rasulullah? Baginda berkata : Labuhkanlah ia sejengkal. Ummu Salamah berkata : Jadi akan terlihatlah kaki kami. Baginda berkata lagi : Labuhkanlah sehasta dan tidak boleh lebih dari itu[8]. Maksud hadis ini ialah wanita boleh melabuhkan kainnya dengan kadar sehasta dari paras tengah betis dan tidak boleh lebih dari itu kerana hadis ini telah jelas melarangnya. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, para wanita melabuhkan kain untuk menutup kedua kakinya.

Kedua; hendaklah pakaian itu tebal dan tidak nipis. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : ‘Dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat : satu kaum yang mempunyai cemeti seperti ekor lembu, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang, mereka jauh dari ketaatan kepada Allah serta mengajar yang lain tentang perbuatan mereka (tidak menutup aurat), kepala mereka seperti bonggol unta, mereka ini tidak masuk syurga dan tidak mencium bau syurga sedangkan bau syurga itu dapat dihidu dari jarak ini dan ini’[9].

Hadis ini menunjukkan bahawa haramnya bagi seorang wanita untuk memakai pakaian yang nipis yang menampakkan warna kulit. Ibn Abd al-Barr berkata : ‘Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memaksudkan wanita yang memakai pakaian yang nipis yang menyifatkan badan mereka serta tidak menutupinya, mereka ini secara namanya berpakaian tetapi pada hakikatnya bertelanjang’[10].

Ketiga; hendaklah pakaian itu longgar dan tidak ketat. Pakaian yang ketat dan menampakkan susuk tubuh wanita tidak memenuhi maksud menutup aurat kerana ia boleh membangkitkan syahwat dan mendatangkan fitnah serta kerosakan. Pakaian yang ketat tetap dilarang walaupun ianya tebal dan tidak nipis. Dalam sebuah hadis dari Ibn Usamah bin Zaid dari bapanya, beliau berkata : ‘Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memakaikan aku qubtiyyah (sejenis pakaian dari Mesir yang nipis berwarna putih)  yang tebal, yang dihadiahkan oleh Dihyah al-Kalbi. Lalu aku memakaikannya pada isteriku. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata kepadaku : ‘Mengapa kamu tidak memakai qubtiyyah?’ Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku telah memakaikannya pada isteriku’. Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : ‘Pergilah kepadanya dan suruhlah dia memakai ghilalah[11] di bawahnya, sesungguhnya aku takut ia akan menampakkan susuk tubuhnya’[12].

Apakah faedahnya memakai pakaian lain di dalam sedangkan baju tersebut adalah tebal? Ini kerana ada baju yang boleh menampakkan susuk tubuh walaupun ia tebal kerana tekstur baju tersebut yang lembut dan licin. Maka oleh itu, wanita perlulah memakai pakaian lain di dalamnya supaya tidak menampakkan lekuk tubuh. Begitu juga jika pada asalnya baju tersebut memang ternyata ketat dan mengikut bentuk tubuh badan, maka ia juga tidak memenuhi syarat menutup aurat dan seorang wanita Muslimah tidak boleh berpakaian sedemikian rupa.

Keempat; pakaian tersebut tidak menyerupai pakaian lelaki. Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki’[13]. Apabila dalam suatu hadis menyebut perkataan ‘laknat’, ini membawa maksud bahawa perbuatan itu merupakan suatu dosa yang besar. Terdapat banyak lagi hadis yang melarang lelaki menyerupai wanita dan wanita menyerupai lelaki. Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan bahawa perkara yang dilarang serupa antara lelaki dan wanita ialah pakaian, perhiasan, cara bercakap dan cara berjalan[14].

Definisi mahram

Adalah amat penting bagi para wanita untuk mengetahui siapakah mahram mereka supaya mereka dapat menjaga aurat dari terlihat oleh orang yang tidak sepatutnya. Mahram ialah lelaki yang haram dikahwini oleh seseorang wanita buat selama-lamanya contohnya bapa kepada si perempuan. ‘Kemahraman’ seseorang itu boleh terjadi sebab nasab (keturunan), penyusuan atau al-mushoharah (disebabkan oleh perkahwinan).

Mahram dari sebab keturunan disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam ayat 31 surah al-Nur.  Mereka ialah :

  1. Bapa; iaitu bapa dan ke atas (datuk, moyang dan seterusnya) kepada si perempuan, samada dari sebelah bapa atau ibunya.
  2. Anak lelaki; iaitu anak kepada si perempuan. Termasuk di dalamnya ialah anak lelaki kepada anak (cucu) dan ke bawah, samada daripada anak lelaki atau perempuan.
  3. Adik-beradik lelaki; samada daripada yang seibu dan sebapa, atau seibu sahaja atau sebapa sahaja.
  4. Anak lelaki kepada adik-beradik lelaki dan ke bawah.
  5. Anak lelaki kepada adik-beradik perempuan dan ke bawah.
  6. Bapa saudara dari sebelah ibu dan bapa; mereka adalah mahram yang disebabkan keturunan walaupun tidak disebutkan dalam ayat 31 surah al-Nur. Ini kerana mereka menduduki tempat ibubapa. Bapa saudara turut dipanggil bapa; ini direkodkan dalam al-Quran dalam surah al-Baqarah ayat 133, apabila anak-anak Nabi Yaakob ‘alayhis-salam berkata : ‘Kami (akan) menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapa-bapamu (iaitu) Ibrahim, Isma’il dan Ishaq..’. Nabi Isma’il ‘alayhis-salam adalah bapa saudara kepada anak-anak Nabi Yaakob ‘alayhis-salam.

Manakala mahram yang disebabkan oleh penyusuan pula disebut dalam suatu hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata : Selepas turunnya ayat hijab, Aflah, saudara kepada Abu Qu’ais, meminta izin daripadaku untuk masuk, aku berkata : Aku tidak akan benarkan sehinggalah aku minta izin daripada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ini kerana bukan Abu Qu’ais yang menyusukan aku tetapi isterinya yang telah menyusukan aku. Kemudian Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam masuk kepadaku, lalu aku berkata kepada Baginda : Aflah, saudara Abu Qu’ais meminta izin kepadaku tetapi aku tidak benarkan sehinggalah aku meminta izin darimu. Lalu berkata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : ‘Apa yang menghalang engkau untuk membenarkan bapa saudaramu masuk kepadamu?’ Aku berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya bukan lelaki itu yang menyusukan aku tetapi isteri Abu Qu’ais yang menyusukan aku. Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berkata : ‘Izinkanlah dia, sesungguhnya dia adalah bapa saudaramu’. Berkata ‘Urwah : Oleh itu, ‘Aisyah mengatakan apa yang haram disebabkan keturunan itu adalah haram juga disebabkan penyusuan[15].

Dan mahram yang disebabkan oleh mushoharah bermaksud mahram yang disebabkan oleh perkahwinan. Contohnya, bapa kepada si suami (bapa mertua) menjadi mahram dan haram berkahwin dengannya selama-lamanya walaupun perempuan tadi telah bercerai dengan suaminya. Begitu juga anak lelaki kepada si suami yang datang daripada isterinya yang lain juga menjadi mahram kepada perempuan tadi. Dan suaminya juga menjadi mahram kepada ibu perempuan.

Inilah serba-sedikit perincian mengenai hukum-hakam dalam menutup aurat. Semoga para wanita Muslimah dapat memahami apakah tuntutan syara’ yang sebenar dalam kewajipan mereka untuk menutup aurat dan semoga setiap butir ilmu ini dijadikan amalan dan praktikal dalam kehidupan seharian. Allahu’alam.


[1] Mu’jam al-Wasith, hlm. 667.

[2] Mustafa al-Bugha dan lain-lain, al-Fiqh al-Manhaji, jil. 1, hlm. 125.

[3] Abdul Karim Zaidan, al-Mufassal fi Ahkam al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim, jil. 3,  hlm. 183.

[4] Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan al-Baihaqi. Lihat : Al-‘Azhim Abadi, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jil. 11, hlm. 98.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Daud (hadis no. 4104 & 4106). Hadis ini disahihkan oleh al-Albani.

[6] Al-Qurtubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, jil. 12, hlm. 205.

[7] Ibn al-‘Arabi, Tafsir Ibn al-‘Arabi, jil. 3, hlm. 1574.

[8] Diriwayatkan oleh Abu Daud (hadis no. 4117)

[9] Diriwayatkan oleh Muslim (hadis no. 5704).

[10] Lihat : al-Albani, Hijab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 126.

[11] Pakaian nipis  yang dipakai di dalam.

[12] Diriwayatkan oleh al-Dhiya’ al-Maqdisi, Ahmad, al-Baihaqi dengan sanad yang baik.

[13] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 5546) dan Ibn Majah (hadis no. 1904)

[14] Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 10, hlm. 332.

[15] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4518, 4815, 5804); Muslim (hadis no. 3646).